Promo Tutorial Premium
Video Tutorial Mahir Web Development (Bangun 5 Project Website) + Video Tutorial Membuat Aplikasi Mobile (Bangun 4 Aplikasi Android + Upload Playstore) + Bonus Tutorial Membuat Theme Wordpress Premium - 3 Tutorial (5DVD) Hanya Rp 137.500 - Terbatas hanya sampai 17 Desember 2019!
Dibuat oleh praktisi yang memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang web development (Pemesanan bisa SMS/WA ke 0838 1157 5876, atau bisa pesan secara online di sini)
Hohoho, bertemu kembali, di kesempatan hendak dibahas tentang rumah bernga benang ciapus Ketika Emak-emak Jalan-jalan simak selengkapnya
Jakarta (ANTARA News) - Matahari belum terbit kala sekelompok ibu-ibu yang menamakan diri "Emak-emak Backpacker" (EEB), Kamis (28/4) pagi, berkumpul di depan sebuah mal. Semua gembira.
Satu bus berpendingin udara telah siap mengangkut membayangkan mengabah Bogor. Ini adalah "trip" mula-mula kemunitas EEB wilayah Depok. Meski namanya "backpacker", emak-emak tetap ingin duduk nyaman pada bus ber-AC, dilengkapi karaoke dan makanan berlimpah.

Waktu telah menunjukkan getok 06.00 WIB, saatnya berangkat. Namun dua orang peserta belum jua datang dan melahirkan panitia sedikit gusar. Akhirnya keberangkatan diundur 15 menit untuk menunggu dua peserta tersebut.
Tujuan mula-mula adalah Rumah Sutra yang berlokasi di kawasan Ciapus, Bogor. Tidak butuh waktu lama, seputar getok 08.00 WIB rombongan telah tiba di lokasi.
Demi emak-emak itu, Rumah Sutra yang biasanya buka jam 09.00 WIB, rela buka lebih awal. Seorang pemandu bernama Yan (ia membawa diri sebagai Yan Sutra) siap mengantar berkeliling rumah produksi tenunan sutra itu.
Tidak mudah bagi Yan buat langsung menggiring ibu-ibu mengabah ke tempat-tempat yang embuh beliau perlihatkan. Ia layak rela menanti mereka berfoto di beragam tempat di rumah bertaman yang asri tersebut. Di mana pun ala setiap kesempatan mereka selalu berfoto.
Lokasi mula-mula yang ditunjukkan Yan adalah kebun murbei. Daun murbei adalah makanan belatung sutra. Rumah Sutra mempunyai kebun murbei seluas dua hektare yang ditanami beraneka macam varian pohon murbai. "Kebanyakan jenis yang dari Jepang," kata Yan.
Puas bertanya-jawab soal tanaman murbei, rombongan beranjak menuju penangkaran belatung sutra. Mereka layak membersihkan alas ceker dengan mencelupkannya ke di kolam air kecil di depan pintu masuk. Ibu-ibu juga diminta buat tidak ada terlalu dekat dengan ulat-ulat kecil itu karena bacin parfum hendak membuat ulat-ulat itu stres.
Di situ terdapat ribuan "bayi" bernga sutra yang baru menetas. Menurut Yan, pada saban kemasan ovulum ulat sutra yang dibeli dari Temanggung, terdapat 25.000 telur belatung sutra yang siap ditetaskan. Namun biasanya tidak sarwa tumbuh menjadi belatung dewasa. "Sekitar 20 persennya gagal," ujar Yan.
Dari penangkaran ovulum ulat sutra, rombongan mengarah tempat pemintalan. Ada dua orang perempuan di sana, satu orang merendam kepompong ulat benang dengan cairan panas, satu orang lainnya memintal benang.
Menurut Yan, kepompong layak direndam cairan panas supaya mudah diurai benangnya untuk dipintal.Benang yang sudah dipintal kemudian ditenun di ruangan yang berbeda. Rumah Sutra menggunakan mesin membordir manual untuk melaksanakan tekstil sutra.
Saat ibu-ibu itu berkunjung, sedia dua pria yang cukup menenun. Keduanya menenun kain yang belum diwarnai. Yang satu menghasilkan tenunan putih polos, yang satu lagi menghasilkan tenunan kucam tetapi bertekstur motif tertentu.
"Dalam sehari maksimal hanya dihasilkan tiga meter kain," ujar Yan. Pantas saja harga tenunan benang sangat mahal, celetuk seorang ibu.
Setelah itu Yan memanggul rombongan ke toko yang memasarkan beragam barang yang dihasilkan di Rumah Sutra itu, mulai dari gantungan kunci dari kepompong hingga selendang dan baju sutra bersama teh alat pernapasan murbei ada di sana. Namanya emak-emak, pastilah harus ada daftar belanja.
Lihat cecair terjun, berpendar hilang
Perjalanan dilanjutkan mengabah Curug Cigamea yang terletak di kaki Gunung Salak.
Perjalanan memakan waktu lebih kurang tiga jam dari Ciapus. Selain karena jalanan mulai macet, jalan mengabah tempat yang tak terlalu lebar, berkelok-kelok dan menanjak membuat bus yang melanting rombongan tak bisa maju kencang.
Lewat jam makan siang rombongan baru tiba di lokasi. Para emak-emak itu tampak lelah. Bahkan seorang perserta yang berasal dari luar kota mengalami mabuk perjalanan. Ia tampak kepayahan.
Semula peserta yang berasal dari Pontianak itu ragu apakah mampu mencapai cecair terjun yang untuk mencapainya harus ditempuh dengan berjalan kaki sejauh sekitar 700 meter melalui jalan setapak berundak-undak.
Tetapi dia bertekad kudu bisa mencapai cairan berpartisipasi tersebut. "Sayang ongkosnya," kata dirinya yang menempuh perjalanan jauh dari Pontianak buat mengikuti daftar lancong itu.
Keputusannya tepat, pusing, lelah dan pegal yang didapat akibat meniti anak tangga, serta belasan monyet yang sempat melahirkan nyali ciut yang ditemui dalam perjalanan mengarah area cairan berperan serta terbayar oleh indahnya cecair berpartisipasi dan pemandangan sekitar.
Lelah seketika hilang, berganti dengan keceriaan. Semua berperan mencari spot yang bagus untuk berfoto. Semua embuh melaksanakan film terbaik di sekitar cairan terjun. "Kapan lagi bisa sampai ke sini," celetuk seorang ibu yang berperan bergambar dengan berbagai pose.
Puas bergambar dan makan siang, rombongan kembali ke bus, masih ada dua tempat yang hendak dikunjungi, Curug Seribu dan Pura Jagatkarta, sementara waktu sudah beranjak sore.
Namun karena kelelahan, peserta memilih tidak ke Curug Seribu yang lagi membutuhkan jalan suku untuk mencapainya. Sedangkan Pura Jagatkarta yang lagi berlokasi di kaki Gunung Salak, alih-alih tidak menerima anjangsana karena cukup direnovasi. Akhirnya diputuskan buat langsung mengarah pusat oleh-oleh sebelum berbalik kembali ke Depok.
Dalam darmawisata menuju tempat oleh-oleh, seorang ibu tiba-tiba minta turun, mau berbalik katanya.
"Saya mau langsung pulang saja, barusan suami telepon katanya anak saya sakit dan kemungkinan harus dirawat (di rumah sakit)," katanya.
Namanya jua emak-emak, di manapun berada tetap saja ahli nomor satu.
Sekian detil perihal Ketika Emak-emak Jalan-jalan semoga tulisan ini menambah paham terima kasih
tulisan ini diposting ala label , coplok 24-07-2019, di kutip dari http://entertainment.analisadaily.com/read/ketika-emak-emak-jalan-jalan/233987/2016/04/30








Tidak ada komentar:
Posting Komentar